Ngunduh Mantu Adalah: Arti, Susunan Acara & Contoh Undangan
Senin, 3 Agustus 2026 · Diperbarui Jumat, 2 Oktober 2026
Ngunduh mantu adalah acara keluarga mempelai pria untuk menerima menantu perempuan secara adat, biasanya sekitar lima hari setelah akad dan resepsi di pihak wanita. Tidak ada pernikahan ulang di sini; yang digelar adalah penerimaan dan syukuran. Di bawah ada rundown 60–90 menit, 12 contoh undangan, dan 2 naskah sambutan.

Ngunduh mantu itu apa, dan siapa tuan rumahnya?
Ngunduh mantu adalah acara keluarga mempelai pria menerima menantu perempuan ke dalam keluarga besarnya. Namanya berasal dari bahasa Jawa: ngunduh berarti memetik atau memanen, mantu berarti menantu (RRI menjelaskan istilah ini sebagai "memetik" menantu).
Tuan rumahnya adalah keluarga mempelai pria. Undangan pun biasanya keluar atas nama orang tua mempelai pria, bukan atas nama pengantin. Ini kebalikan dari akad dan resepsi utama yang umumnya ditanggung keluarga mempelai wanita.
Tradisi ini paling melekat di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, tapi polanya dipakai luas di daerah lain dengan nama berbeda. Intinya sama: pasangan yang sudah sah diperkenalkan kepada kerabat dan tetangga di pihak laki-laki yang tidak mungkin datang ke kota mempelai wanita.
Mulung mantu: sebutan di tatar Sunda
Di adat Sunda, acara yang sama sering disebut mulung mantu, yang berarti mengambil mantu. Isinya pada dasarnya sama dengan ngunduh mantu; yang berbeda terutama istilah dan bahasa pengantarnya. Jadi kalau undangan dari keluarga Sunda menulis "mulung mantu", tamu cukup memahaminya sebagai ngunduh mantu.
Apa bedanya ngunduh mantu dengan resepsi dan tilik besan?
Bedanya ada di tuan rumah dan tujuannya: resepsi utama digelar keluarga wanita, ngunduh mantu dan tilik besan digelar keluarga pria. Istilahnya sering tertukar, jadi pakai tabel ini.
| Acara | Tuan rumah | Tujuan | Skala tamu |
|---|---|---|---|
| Akad atau pemberkatan | Keluarga mempelai wanita | Pengesahan pernikahan | Keluarga inti dan saksi |
| Resepsi utama | Keluarga mempelai wanita | Syukuran dan menerima tamu | Paling besar |
| Ngunduh mantu | Keluarga mempelai pria | Menerima menantu, memperkenalkan ke kerabat pihak pria | Menengah, kerabat dan tetangga |
| Tilik besan | Keluarga mempelai pria | Silaturahmi: keluarga mempelai wanita berkunjung setelah acara | Kecil, keluarga inti |
Ngunduh mantu bukan pernikahan kedua. Tidak ada ijab atau pemberkatan ulang di sana — statusnya sudah sah sejak akad. Yang digelar adalah penerimaan dan syukuran, jadi susunannya lebih ringan daripada resepsi utama.
Berapa hari setelah resepsi ngunduh mantu digelar?
Paling umum sekitar lima hari setelah resepsi (detik Jateng menyebut jarak lima hari), tetapi jaraknya fleksibel dan disepakati dua keluarga. Beberapa pilihan punya nama sendiri dalam tradisi Jawa.
| Jarak dari resepsi | Istilah | Pertimbangannya |
|---|---|---|
| Hari yang sama, sesi berbeda | — | Hemat biaya dan cuti, tapi pengantin sangat lelah dan jarak kota harus dekat |
| Sehari setelahnya | Walik ajang | Rombongan keluarga tidak perlu pulang dulu, dekorasi vendor bisa dipakai lanjut |
| Lima hari setelahnya | Sepasar | Pola paling klasik, pengantin sempat istirahat dan berkemas |
| Sekitar seminggu | — | Cukup longgar untuk perjalanan antarpulau atau antarprovinsi |
| Satu bulan atau lebih | — | Dipakai kalau menunggu musim panen, jadwal keluarga, atau libur panjang |
Yang menentukan bukan hanya adat, tapi hal praktis: jarak kota, cuti kerja, kesiapan tempat, dan biaya. Semakin jauh jaraknya dari hari resepsi, semakin besar kemungkinan tamu lupa — itu sebabnya pengingat lewat undangan yang sama lebih aman daripada mengandalkan ingatan.
Apa saja susunan acara ngunduh mantu adat Jawa?
Urutan intinya: rombongan datang, penyambutan, dialog dua keluarga, air minum dari orang tua pria, sindur binayang, lalu sungkeman. Pakai kerangka 90 menit ini lalu geser durasinya; prosesi adatnya umumnya selesai dalam satu sampai satu setengah jam, sisanya jamuan tamu.
| Menit | Bagian | Isinya |
|---|---|---|
| 0–15 | Persiapan rombongan | Pengantin dan keluarga berkumpul di titik jemput, sudah berbusana lengkap |
| 15–25 | Pangombyong | Rombongan berjalan menuju rumah atau gedung keluarga mempelai pria |
| 25–35 | Penyambutan | Tuan rumah menyambut di depan pintu, kadang diiringi gamelan atau rebana |
| 35–45 | Imbal wicara | Wakil kedua keluarga berdialog: penyerahan dan penerimaan mempelai |
| 45–50 | Unjukan tirto wening | Orang tua mempelai pria memberi air minum kepada kedua pengantin |
| 50–55 | Sindur binayang | Kedua pengantin dituntun ke pelaminan dengan kain sindur |
| 55–70 | Sungkeman | Pengantin sungkem kepada orang tua dan sesepuh pihak pria |
| 70–80 | Sambutan dan doa | Sambutan keluarga lalu doa bersama sesuai keyakinan keluarga |
| 80–90 | Jamuan dan salam tamu | Pengantin di pelaminan, tamu bersalaman dan menikmati hidangan |
Urutan dan nama prosesinya berbeda antardaerah, bahkan antarkeluarga. Sebelum mencetak rundown, tanyakan dulu ke sesepuh pihak pria bagian mana yang dipakai dan mana yang dilewat. Untuk rangkaian sebelum hari-H, ada urutan prosesi pernikahan adat Jawa yang membahas siraman sampai panggih.
Bagaimana susunan acara ngunduh mantu yang singkat?
Versi singkat cukup penyambutan, dua sambutan, doa, lalu makan bersama, dengan acara inti sekitar satu jam. Banyak keluarga sekarang memilih ini tanpa prosesi adat lengkap; sisanya tamu bebas bersalaman.
| Menit | Bagian | Siapa yang pegang | Catatan |
|---|---|---|---|
| 0–5 | Pembukaan | MC atau satu anggota keluarga | Sebut nama acara dengan jelas: "ngunduh mantu" atau "syukuran pernikahan" |
| 5–15 | Kedatangan pengantin dan rombongan | Keluarga pria di depan pintu | Rombongan mempelai wanita masuk bersama pengantin |
| 15–20 | Sambutan tuan rumah | Wakil keluarga mempelai pria | Terima kasih kepada tamu, menerima menantu |
| 20–25 | Sambutan wakil keluarga mempelai wanita | Paman atau sesepuh pihak wanita | Menitipkan mempelai wanita kepada keluarga pria |
| 25–35 | Doa bersama | Tokoh agama atau sesepuh | Sesuai keyakinan keluarga |
| 35–45 | Sungkeman singkat (opsional) | Pengantin | Cukup kepada orang tua pihak pria |
| 45–60 | Foto keluarga | Fotografer atau kerabat | Foto dua keluarga besar dulu, baru foto per rombongan |
| 60 dst. | Ramah tamah dan makan | Semua | Pengantin duduk di depan, tamu datang bersalaman |
Empat hal yang membuat acara tetap rapi, baik versi singkat maupun adat lengkap:
- Batasi sambutan dua orang saja, masing-masing tiga sampai lima menit. Sambutan yang bertambah di tempat adalah penyebab paling umum acara molor.
- Tulis jam mulai sebenarnya di undangan, bukan jam kumpul keluarga. Tamu memakai jam yang tertulis sebagai patokan datang.
- Siapkan satu orang untuk menjawab tamu yang datang terlambat, supaya pengantin tidak perlu meninggalkan kursi di depan.
- Untuk adat lengkap, tunjuk pemandu (MC atau sesepuh yang paham urutan prosesi). Untuk syukuran sederhana, satu anggota keluarga yang membuka dan menutup acara sudah cukup.
Pola ngunduh mantu apa saja yang dipakai sekarang?
Empat pola yang umum: adat Jawa lengkap, nuansa Sunda, syukuran islami sederhana, dan resepsi kedua modern. Tidak semua keluarga memakai prosesi Jawa lengkap.
| Pola | Ciri utama | Durasi acara inti | Cocok kalau |
|---|---|---|---|
| Adat Jawa lengkap | Pangombyong, imbal wicara, sindur binayang, sungkeman | 60–90 menit | Keluarga masih memegang urutan adat dan ada sesepuh yang memandu |
| Nuansa Sunda | Penyambutan, saweran, dan huap lingkung sebagai simbol berbagi | 45–60 menit | Pihak pria berlatar Sunda atau ingin prosesi yang lebih ringkas |
| Syukuran islami sederhana | Sambutan, doa bersama, lalu ramah tamah | 30–45 menit | Ingin acara singkat dan fokus ke silaturahmi |
| Resepsi kedua modern | Tanpa prosesi adat, konsep standing party atau syukuran keluarga | 2–3 jam, tanpa prosesi inti | Tamu banyak dari lingkungan kerja dan teman pihak pria |
Kalau kedua keluarga berbeda adat, pilih satu pola sebagai kerangka (biasanya adat tuan rumah) lalu sisipkan satu atau dua simbol dari adat pihak lain; sepakati jauh hari. Busana pengantin biasanya versi yang lebih ringan daripada resepsi utama. Pola mana pun yang dipilih, tulis namanya jelas di undangan. Tamu yang membaca "ngunduh mantu" akan menyiapkan busana adat, sedangkan yang membaca "syukuran pernikahan" datang dengan pakaian rapi biasa.
Siapa yang diundang, dan apa yang wajib ada di undangan?
Tamunya terutama kerabat dan tetangga pihak pria, bukan salinan daftar resepsi utama. Yang diundang:
- Kerabat pihak pria yang tidak mungkin hadir ke kota mempelai wanita.
- Tetangga dan warga sekitar rumah keluarga pria.
- Rekan kerja dan teman mempelai pria beserta orang tuanya.
- Perwakilan keluarga mempelai wanita yang ikut rombongan, jumlahnya disepakati sejak awal karena memengaruhi porsi jamuan.
Empat hal ini harus jelas di undangan supaya tidak salah dibaca tamu:
- Nama acaranya — tulis "Ngunduh Mantu" atau "Syukuran Pernikahan", jangan hanya "Resepsi" karena tamu bisa mengira acara di kota sebelah.
- Tanggal dan jamnya, terpisah jelas dari tanggal resepsi utama.
- Alamat lengkap plus tautan peta, karena rumah keluarga di kampung sering tidak punya nama gedung yang bisa dicari.
- Zona waktunya kalau beda pulau. WIB dan WITA berselisih satu jam, dan ini penyebab tamu datang terlalu pagi atau terlambat.
Contoh teks undangan ngunduh mantu
Dua belas contoh berikut tinggal disalin. Ganti nama, tanggal, dan alamatnya. Kalau kamu butuh versi berbahasa Jawa krama, contohnya ada di contoh undangan pernikahan bahasa Jawa bagian ngunduh mantu.
Versi paling sederhana, cukup lima baris:
Ngunduh Mantu
Aditya & Salsabila
Minggu, 13 Juni 2027 · 11.00 WIB
Kediaman keluarga, Jl. Diponegoro No. 24, Klaten
Keluarga Bapak Sutrisno Nugroho
Undangan satu lembar untuk dicetak (muat di kertas A5 atau A6):
UNDANGAN NGUNDUH MANTU
Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Saudara/i ______________________
Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i
untuk hadir pada acara ngunduh mantu putra kami:
Aditya Nugroho
putra Bapak Sutrisno Nugroho & Ibu Endang Lestari
dengan
Salsabila Rahma
putri Bapak Hendra Wijaya & Ibu Ratna Sari
Hari, tanggal : Minggu, 13 Juni 2027
Pukul : 11.00 WIB - selesai
Tempat : Kediaman keluarga
Jl. Diponegoro No. 24, Klaten
Merupakan kehormatan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i
berkenan hadir dan memberikan doa restu.
Hormat kami,
Keluarga Besar Bapak Sutrisno Nugroho
Undangan resmi atas nama orang tua:
Dengan penuh syukur, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i
untuk menghadiri acara Ngunduh Mantu putra kami:
Aditya Nugroho & Salsabila Rahma
Minggu, 13 Juni 2027
Pukul 11.00 WIB - selesai
Kediaman keluarga, Jl. Diponegoro No. 24, Klaten
Keluarga Besar Bapak Sutrisno Nugroho
Versi dengan salam islami:
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir pada acara
Ngunduh Mantu putra kami, Aditya & Salsabila,
pada Minggu, 13 Juni 2027 pukul 11.00 WIB
di kediaman kami, Jl. Diponegoro No. 24, Klaten.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Keluarga Besar Bapak Sutrisno Nugroho
Pesan WhatsApp singkat ke kerabat:
Bapak/Ibu Hartono sekeluarga,
Kami mengundang Bapak/Ibu ke acara ngunduh mantu putra kami,
Aditya & Salsabila, Minggu 13 Juni 2027 pukul 11.00 WIB
di kediaman kami, Klaten.
Detail dan peta lokasi ada di tautan ini:
undaku.id/aditya-salsabila
Terima kasih banyak.
Untuk tetangga dan warga sekitar:
Bapak/Ibu warga RT 03,
Insya Allah kami sekeluarga menggelar syukuran ngunduh mantu
putra kami pada Minggu, 13 Juni 2027, pukul 11.00 WIB,
di halaman rumah kami.
Mohon doa restunya dan kami tunggu kehadirannya.
Keluarga Bapak Sutrisno
Untuk rekan kerja mempelai pria:
Rekan-rekan sekalian,
Setelah resepsi di Bandung minggu lalu, keluarga saya
mengadakan acara ngunduh mantu di Klaten:
Minggu, 13 Juni 2027
Pukul 11.00 WIB - selesai
Jl. Diponegoro No. 24, Klaten
Saya akan senang sekali kalau rekan-rekan bisa hadir.
Detail lengkap: undaku.id/aditya-salsabila
Ketika acaranya di hari yang sama dengan resepsi:
Kepada Bapak/Ibu/Saudara/i,
Rangkaian acara pernikahan Aditya & Salsabila:
Resepsi - Sabtu, 12 Juni 2027, 10.00 WIB
Gedung Sasana Krida, Solo
Ngunduh Mantu - Sabtu, 12 Juni 2027, 18.00 WIB
Kediaman keluarga, Jl. Diponegoro No. 24, Klaten
Kehadiran Bapak/Ibu di salah satu atau kedua acara
sangat berarti bagi kami.
Ketika lokasinya beda zona waktu:
Kepada Bapak/Ibu/Saudara/i,
Acara Ngunduh Mantu Aditya & Salsabila akan digelar:
Minggu, 20 Juni 2027
Pukul 11.00 WITA (10.00 WIB)
Jl. Merdeka No. 7, Balikpapan
Mohon diperhatikan zona waktunya agar tidak keliru jam.
Undangan untuk keluarga mempelai wanita yang ikut rombongan:
Bapak/Ibu Besan yang kami hormati,
Kami menantikan kehadiran Bapak/Ibu beserta rombongan
pada acara ngunduh mantu, Minggu 13 Juni 2027,
pukul 11.00 WIB di kediaman kami.
Mohon dikabarkan jumlah rombongan yang hadir agar kami
siapkan tempat dan jamuannya dengan baik.
Keluarga Besar Bapak Sutrisno Nugroho
Pengingat H-2 lewat pesan:
Bapak/Ibu/Saudara/i,
Mengingatkan kembali acara ngunduh mantu Aditya & Salsabila,
Minggu 13 Juni 2027 pukul 11.00 WIB
di Jl. Diponegoro No. 24, Klaten.
Peta lokasi bisa dibuka langsung dari tautan undangan:
undaku.id/aditya-salsabila
Sampai bertemu di sana.
Ucapan terima kasih setelah acara:
Bapak/Ibu/Saudara/i yang kami hormati,
Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara ngunduh mantu
kami kemarin. Doa dan kehadiran Bapak/Ibu sangat berarti
bagi keluarga besar kami.
Mohon maaf bila ada kekurangan dalam penyambutan.
Aditya, Salsabila, dan keluarga
Contoh sambutan ngunduh mantu
Di acara ngunduh mantu biasanya ada dua sambutan: dari tuan rumah (wakil keluarga mempelai pria) yang menerima menantu, lalu dari wakil keluarga mempelai wanita yang menitipkan putrinya. Urutannya kira-kira sama:
| Bagian | Sambutan tuan rumah (pihak pria) | Sambutan pihak wanita |
|---|---|---|
| Pembuka | Salam dan sapaan kepada hadirin | Salam dan sapaan kepada tuan rumah dan hadirin |
| Memperkenalkan diri | Nama dan hubungan dengan mempelai pria | Nama dan hubungan dengan mempelai wanita |
| Terima kasih | Kepada tamu yang hadir dan rombongan besan | Atas penyambutan keluarga mempelai pria |
| Inti | Menerima mempelai wanita sebagai bagian keluarga | Menitipkan mempelai wanita kepada keluarga pria |
| Harapan | Doa restu untuk kedua mempelai | Mohon bimbingan untuk putrinya |
| Penutup | Mohon maaf atas kekurangan penyambutan | Mohon maaf atas kekurangan rombongan |
Dua naskah berikut sengaja dibuat umum, tanpa kutipan doa atau ayat. Kalau
keluargamu muslim, tambahkan salam pembuka Assalamu'alaikum Wr. Wb. dan
penutup Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Doa bersamanya biar dipimpin tokoh agama
di bagian acara tersendiri.
Sambutan tuan rumah, sekitar tiga menit:
Bapak/Ibu/Saudara/i yang kami hormati,
Bapak dan Ibu besan beserta rombongan yang kami hormati,
Saya [Nama], [paman] dari mempelai pria, mewakili keluarga
besar Bapak [Nama Ayah] dan Ibu [Nama Ibu].
Pertama, terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu semua di acara
ngunduh mantu putra kami, [Mempelai Pria] dan [Mempelai Wanita].
Terima kasih juga kepada keluarga besar mempelai wanita yang
sudah menempuh perjalanan dari [Kota] untuk hadir hari ini.
Hari ini kami dengan bahagia menerima [Mempelai Wanita]
sebagai menantu dan bagian dari keluarga besar kami.
Kami mohon doa restu Bapak/Ibu semua agar keduanya menjadi
keluarga yang rukun dan bahagia.
Kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyambutan.
Selamat menikmati hidangan yang sudah kami siapkan.
Terima kasih.
Sambutan wakil keluarga mempelai wanita, sekitar dua menit:
Bapak/Ibu tuan rumah dan hadirin yang kami hormati,
Saya [Nama], [paman] dari mempelai wanita, mewakili keluarga
besar Bapak [Nama Ayah] dan Ibu [Nama Ibu] dari [Kota].
Terima kasih atas penyambutan yang begitu hangat kepada
kami sekeluarga hari ini.
Pada kesempatan ini kami menitipkan putri kami, [Mempelai Wanita],
kepada keluarga besar Bapak [Nama Ayah Mempelai Pria].
Mohon bimbingan dan tuntunannya sebagai anggota keluarga baru.
Kami mohon maaf apabila ada tutur kata atau sikap kami
yang kurang berkenan.
Terima kasih.
Isi [paman] dengan hubungan yang sebenarnya — pakde, om, kakak, atau
sesepuh yang ditunjuk keluarga. Sambutan yang lebih lengkap untuk resepsi
bisa kamu atur urutannya bersama MC lewat
contoh teks MC pernikahan.
Bagaimana memuat resepsi dan ngunduh mantu dalam satu undangan digital?
Cukup satu undangan dengan dua acara, masing-masing punya tanggal, zona waktu, dan peta sendiri. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membuat dua undangan terpisah. Tamu yang diundang ke keduanya jadi pegang dua tautan, dan yang cuma diundang ke satu acara ikut kebingungan.
Di Undaku, satu undangan bisa memuat beberapa acara sekaligus. Tiap acara punya kolomnya sendiri:
- Tambahkan acara baru dan pilih jenis acara. Kalau tidak ada di daftar presetnya, pilih jenis bebas lalu ketik judulnya sendiri, misalnya "Ngunduh Mantu".
- Isi tanggal dan jam mulai. Jam selesai boleh dikosongkan, nanti tampil sebagai "selesai".
- Pilih zona waktunya — WIB, WITA, atau WIT. Ini yang menyelamatkan acara beda pulau, karena tamu membaca jam sesuai zona lokasi acaranya.
- Tulis nama tempat, alamat, dan tempelkan tautan Google Maps milik lokasi itu. Tiap acara punya peta sendiri, jadi rumah di kampung tidak tertukar dengan gedung resepsi.
- Isi dress code bila perlu, misalnya busana adat untuk ngunduh mantu dan batik untuk resepsi.
- Atur urutan tampilnya supaya acara yang lebih dulu berada di atas.
Tautan undangannya tetap aktif setelah resepsi selesai — di semua paket Undaku undangan berlaku selamanya, jadi tautan yang sama masih bisa dibuka tamu saat ngunduh mantu seminggu kemudian.
Dua hal yang perlu kamu ketahui sejak awal supaya tidak salah rencana:
- Konfirmasi kehadiran (RSVP) dihitung per undangan, bukan per acara. Kalau kamu butuh angka terpisah untuk resepsi dan ngunduh mantu, pisahkan lewat grup tamu, atau buat undangan tersendiri khusus tamu ngunduh mantu.
- Daftar tamu bisa dikelompokkan. Tiap tamu punya nama grup dan label tambahan, jadi kerabat pihak pria mudah disaring saat mengirim undangan lewat WhatsApp — kamu tidak perlu mengirim undangan ngunduh mantu ke tamu yang hanya diundang ke resepsi.
Kalau kamu ingin tampilan undangannya bernuansa adat, ada panduan undangan pernikahan adat dan tema undangan Jawa untuk memilih motifnya.
Kalau acaranya beda kota atau beda pulau
Perjalanan rombongan adalah bagian tersulitnya, dan hampir semua keputusan tanggal sebenarnya ditentukan di sini.
- Hitung mundur dari jam kedatangan rombongan, bukan dari jam acara. Kalau penerbangan mendarat pagi, prosesi jangan dijadwalkan pukul sembilan.
- Beri jeda minimal satu hari antara resepsi dan keberangkatan kalau perjalanannya lebih dari empat jam.
- Pastikan busana adat dan perlengkapan prosesi ikut terbawa, atau dipinjamkan di kota tujuan — barang inilah yang paling sering tertinggal.
- Tulis zona waktu di setiap penyebutan jam. Tamu lokal membaca jam setempat, sementara rombongan dari pulau lain masih berpikir dengan jam asalnya.
- Sediakan satu nomor kontak lokal di undangan untuk tamu yang tersesat, idealnya kerabat yang tinggal di sekitar lokasi.
Checklist persiapan ngunduh mantu
Acaranya lebih ringan daripada resepsi, tapi jadwalnya menempel di belakang hari besar. Mulai lebih awal supaya tidak berbenturan.
| Waktu | Yang dikerjakan |
|---|---|
| H-30 | Sepakati tanggal dengan sesepuh kedua keluarga, kunci tempat |
| H-21 | Tentukan pola acara: adat lengkap, ringkas, atau syukuran biasa |
| H-21 | Susun daftar tamu pihak pria, pisahkan dari daftar tamu resepsi |
| H-14 | Tambahkan acara ngunduh mantu ke undangan, sebar ke daftar tamunya |
| H-14 | Pesan katering, kunci jumlah porsi berdasarkan konfirmasi awal |
| H-10 | Siapkan busana adat pengantin dan orang tua, cek ukurannya |
| H-7 | Kunci rundown dan tunjuk MC atau pemandu prosesi |
| H-7 | Atur transportasi rombongan dari kota resepsi ke lokasi acara |
| H-3 | Cocokkan jumlah konfirmasi kehadiran dengan porsi dan kursi |
| H-2 | Kirim pesan pengingat beserta tautan undangan dan peta |
| H-1 | Cek sound, tenda, pelaminan, dan jalur masuk rombongan |
| Hari-H | Satu orang memegang rundown dan jam, bukan pengantin |
Untuk daftar persiapan menyeluruh dari awal, pakai checklist persiapan pernikahan, dan untuk pola susunan acaranya lihat rundown acara resepsi pernikahan.
Kekeliruan yang sering terjadi
- Undangannya baru disebar setelah resepsi selesai. Kerabat di kampung butuh waktu mengatur transportasi. Sebar bersamaan dengan undangan resepsi, meski acaranya seminggu kemudian.
- Nama acaranya tidak ditulis. Undangan yang hanya menulis "resepsi" dengan tanggal berbeda membuat tamu mengira acaranya diundur atau pindah tempat.
- Prosesi disusun tanpa bertanya ke sesepuh. Urutan adat berbeda antardaerah, bahkan antarkeluarga di desa yang sama. Rundown yang dicetak duluan sering harus dirombak di lokasi.
- Jumlah rombongan pihak wanita tidak dipastikan. Ini langsung memengaruhi porsi jamuan dan jumlah kursi, dan paling sering terlewat karena dianggap urusan keluarga sebelah.
- Pengantin dijadwalkan tanpa jeda istirahat. Setelah rangkaian akad dan resepsi, prosesi tambahan di hari berikutnya terasa jauh lebih berat daripada perkiraan di atas kertas.
- Alamat rumah ditulis tanpa tautan peta. Rumah di kampung jarang dikenali aplikasi peta hanya dari nama jalan. Tempelkan pin lokasi yang sudah dibuka dan dicek dari HP orang lain.
Pertanyaan yang sering muncul
Ngunduh mantu wajib atau tidak?
Tidak wajib. Ini tradisi keluarga, bukan syarat sahnya pernikahan. Banyak pasangan melewatinya kalau kedua keluarga tinggal di kota yang sama.
Kenapa disebut ngunduh mantu?
Karena ngunduh berarti memetik atau memanen dan mantu berarti menantu: keluarga pria "memetik" menantu perempuan ke dalam keluarganya. Di tatar Sunda sebutannya mulung mantu, yang artinya mengambil mantu.
Siapa yang menanggung biaya ngunduh mantu?
Keluarga mempelai pria, karena merekalah tuan rumahnya. Besarannya sangat bervariasi tergantung skala tamu dan apakah memakai gedung atau rumah, jadi sepakati anggarannya sejak awal dengan pihak yang menanggung.
Apa bedanya ngunduh mantu dengan resepsi kedua?
Bedanya di prosesi. Ngunduh mantu memuat penerimaan menantu secara adat, sedangkan resepsi kedua bisa saja hanya syukuran tanpa prosesi. Keduanya sama-sama digelar keluarga mempelai pria.
Bolehkah ngunduh mantu digelar di gedung?
Boleh. Rumah keluarga tetap yang paling umum karena maknanya penerimaan ke dalam rumah, tapi gedung dipakai kalau tamunya banyak atau halaman rumah tidak memadai.
Perlu undangan cetak terpisah untuk ngunduh mantu?
Tidak perlu kalau kamu memakai undangan digital, karena kedua acara bisa dimuat di satu tautan yang sama. Undangan cetak terpisah biasanya baru dibuat untuk sesepuh dan tetangga yang lebih nyaman menerima kartu fisik.
Satu tautan untuk semua rangkaian acara
Resepsi dan ngunduh mantu tidak perlu dua undangan. Dengan undangan digital Undaku, kamu memasukkan kedua acara ke satu undangan lengkap dengan tanggal, zona waktu, dan peta masing-masing — tamu membuka tautan yang sama dan langsung tahu mana yang mereka datangi. Daftar tamu bisa dikelompokkan supaya undangan ngunduh mantu hanya dikirim ke yang memang diundang. Lihat pilihan temanya, gratis untuk mulai.